Posted by: bennosc | September 10, 2008

Persekutuan Orang Kudus Bagaikan Saudara-Saudariku

Dilahirkan dalam keluarga Konghuchu yang sangat ketat dalam memegang tradisi, Katharina Vina Bunyamin, demikian nama gadis ini, tidak membuatnya mundur untuk menjadi seorang Katolik. “Menjadi Katolik itu panggilan”, demikian tegasnya. Kemudian ia menuturkan bagaimana dirinya menjadi seorang Katolik. “Sejak umur 3 tahun saya dididik di sekolah Katolik. Saya mengenal Yesus dan ritual-ritual kebaktian lewat sekolah. Saat kelas V SD saya memutuskan untuk dibaptis. Waktu itu keluarga saya menentang, meski tidak terlalu keras karena orang tua saya mengenal bahwa Katolik memberikan pendidikan yang baik. Cuma waktu mau dibaptis saya sakit tipus dan dokter mengatakan saya harus istirahat total tapi saat itu juga saya tetap ngotot meskipun Papa dan Mama melarang saya untuk pergi ke Gereja. Saya tidak mau upacara baptis yang saya tunggu-tunggu selama satu tahun batal gara-gara sakit dan harus ikut tahun depannya lagi. Entah mengapa saya benar-benar rindu pada saat itu. Akhirnya saya diantar ke gereja dalam kondisi yang sangat lemah. Tetapi sukur kepada Allah saya mengalami kebahagiaan yang luar biasa karena saya bisa dibaptis dan bisa menyambut Tubuh Kristus ntuk pertama kalinya”, papar gadis yang sekarang bekerja di Cordia Caritas Medan ini.

Mulai Mengenal Devosi

Pertama kali Vina mengenal dan belajar devosi kepada para kudus lewat komunitas awam Karmelit, Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM). Di dalam komunitas ini banyak diajarkan tokoh-tokoh Karmel dengan segala spiritualitas mereka masing-masing. Akhirnya ia jatuh cinta pada St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. “Secara pribadi saya merasakan doa-doanya menyertai perjalanan hidup saya untuk semakin rendah hati. Karena salah satu nilai kebajikan yang ditanamkan St. Theresia adalah kerendahan hati dan pasrah sepenuhnya kepada penyelenggaraan ilahi. Lewat doa kepada St. Theresia ini saya merasakan pertumbuhan rohani dalam diri saya dan semakin hari semakin bergantung kepada Allah untuk semakin rendah hati”, paparnya.

Selain itu Vina juga berdevosi kepada St. Raphael sebagai santo pelindung kaum muda. Ia mencoba membaca kisah hidupnya yang selalu melindungi kaum muda dan keluarga Kristiani. Kebiasaan berdevosi yang ia jalani sampai saat ini dimulai dengan pengenalan tentang santo-santa itu sendiri . Setelah itu ia diajak untuk sama-sama berdoa kepada Allah melalui santo dan santa. “Saya merasakan doa-doa mereka menyertai saya dalam setiap persoalan atau masalah hidup yang saya alami. Selain malaikat pelindung saya sendiri, saya sendiri berdoa kepada Allah, saya memiliki banyak perantara di dalam Gereja Katolik yang dengan senang hati menghantarkan doa-doa saya kepada Allah”, papar Vina yang punya hobby membaca, traveling dan nonton film yang mengandung inspirasi nilai-nilai kehidupan ini.

Memilih Nama Baptis

Nama baptis Vina adalah Katharina dari Labore. “Saya menjadi Katolik atas pilihan saya sendiri. Saya pergi belajar katekumen sendiri. Nama itu saya pilih karena saat itu saya senang membaca kisah hidupnya yang banyak mengabdikan dirinya untuk karya kemanusiaan. Saya yakin selama ini ia berdoa untuk saya sehingga tujuan hidup yang ingin saya jalani benar-benar berkarya untuk kemanusiaan, bukan untuk keuntungan atau kepentingan diri saya sendiri. Nama baptis ini saya pilih sendiri dan memang devosi kepada St. Katharina itu yang meneguhkan saya. Praktek devosi kepada para santo ini khususnya saya lakukan pada hari-hari pesta mereka. Atau saat saya sedang mengalami kondisi yang sangat sulit karena mereka memiliki novena-novena khusus. Atau ketika saya sedang mempelajari kehidupan para kudus. Saya juga mengagumi dan berusaha menghidupi karya Yohanes dari Salib dan Theresia dari Avila. Papar gadis yang juga ikut menghadiri Konferensi Internasional Komunitas Tritunggal Mahakudus di Cikanyere, Jawa Barat ini.

Praktek devosi yang dengan setia dijalaninya dirasakan sangat membantu perjalanan hidupnya. “Yang sangat konkret saya rasakan dari praktek devosi adalah rahmat untuk bisa mentoleransi kekurangan atau kelemahan baik diri sendiri maupun orang lain karena itu salah satu aspek dari kerendahan hati. Saya tipe orang perfeksionis. Saya punya kecenderungan untuk menyombongkan diri atas kemampuan atau potensi yang saya miliki. Lewat devosi ini saya lebih sanggup untuk menyadari bahwa apa yang saya miliki dan lakukan adalah semuanya karena peran Tuhan di dalam hidup saya. Devosi membutuhkan ketekunan dan kesetian baik dalam waktu maupun praktek devosi itu sendiri. Maka saya berkomitmen dalam diri saya untuk sungguh menjalankan setiap devosi tersebut. Yang mendasari komitmen itu adalah cinta kepada Allah dan kelompok para kudusnya”, papar gadis kelahiran Jakarta, 20 Oktober 1982 ini.

Para Kudus sebagai Saudara-Saudariku

Berdevosi kepada para kudus bukan berarti ia melupakan Yesus untuk berdoa kepadaNya secara langsung. “Saya berdoa kepada Yesus langsung tapi para kudus itu bagaikan saudara-saudari saya yang menyampaikan doa saya kepada Allah. Kalau hanya satu orang yang berbicara kepada Yesus tentang permohonan saya, tentu akan lebih didengarkan kalau yang minta itu banyak. Kalau saya berteriak “Yesus tolong saya”, dan para kudus berbicara kepada Tuhan juga, “Tuhan tolonglah si Vina”. Saya merasakan pertolongan dari para kudus tersebut”. Demikian lulusan Fakultas Psikologi Unika Atmadjaya Jakarta ini menggambarkan praktek devosinya kepada para kudus.

Bangga sebagai Katolik

“Saya bangga menjadi seorang Katolik karena saya menjadi bagian dalam persekutuan dengan para kudus di Surga. Hanya mereka sudah berbahagia di sana dan kita masih berziarah atau masih ada yang menderita di api penyucian. Dimana kita bisa saling mendoakan. Kita yang sedang berziarah berdoa bagi mereka yang menderita di api penyucian dan mereka yang sudah berjaya di surga mendoakan kita yang sedang berziarah dan masih menderita. Kalau kita tahu misteri ini, itu merupakan suatu kebanggan besar karena kita boleh bergabung dengan Gereja yang begitu kaya. Karena bukan hanya kita yang hidup di dunia tapi juga para kudus di surga berdoa bagi kita semua. Mulailah untuk mengenal lebih dulu tentang kekayaan Gereja Katolik khususnya berdoa kepada para santo-santa dan kemudian mulailah untuk meminta doa-doa mereka bagi kita khususnya kepada santo-santa pelindung. Mungkin hasilnya tidak langsung nyata dan dapat dilihat mata, tapi percayalah akan ada kebajikan kristiani yang timbul dalam diri kita dan membuat diri kita lebih sempurna untuk menjadi serupa dengan Yesus”, demikian ia mengajak para pembaca untuk setia memanfaatkan kekayaan tradisi dalam Gereja Katolik dalam praktek devosi.

Selain itu Vina juga sangat kagum dengan sosok Bunda Teresa dari Calcuta yang sanggup melihat diri Allah dalam sesama yang menderita. “Saya mencoba juga untuk melihat kehadiran Allah dalam diri sesama saya. Dan kalau saya capek melayani sesama yang kadang tidak mudah, saya akan meneladan St. Theresia Lisseux yang mengatakan bahwa semua ini kulakukan semata-mata demi cintaku kepada Allah. Jadi bukan hanya manusianya yang dilihat tapi semuanya dilakukan hanya semata-mata demi cintanya kepada Allah sehingga saya akan melakukan semuanya demi Allah”, papar gadis yang pernah dipercaya Cordia Caritas Medan untuk menangani para penderita HIV dan AIDS ini.

Dengan motto hidup tidak ada kata menyerah ia ingin tetap setia kepada Tuhan dan pelayanan yang sedang dijalaninya. “Setelah saya alami dan renungkan, manusia boleh jatuh atau gagal tapi yang penting adalah berapa kali dia bangkit. Bukan masalah berapa kali dia jatuh. Karena sebenarnya harapan dan kesempatan itu ada dan tetap diberikan kepada setiap orang hanya apakah dia cukup berbesar hati untuk menerima kegagalan dan kemudian dia bangkit lagi. Itulah yang menjadi permenungan saya. Apapun boleh terjadi dalam hidup manusia. Yang penting dia bangkit karena lewat kebangkitan itu akan ada banyak hal lain yang akan dialami hal-hal baik lainnya”, papar Vina Bunyamin yang pada pertengahan Agustus 2008 lalu berangkat ke Jerman untuk menjadi tenaga sukarelawan di salah satu lembaga sosial. (bnj-pernah dimuat di Majalah Keuskupan Agung Medan-Menjemaat)

About these ads

Responses

  1. Sebenarnya ajaran gereja mengenai orang kudus, belum begitu dimaknai oleh kaum awam. Kehadiran komunitas-komunitas di dalam gereja sangat perlu untuk mendalami kehidupan spiritualitas para kudus tsb.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.